Attraction (2017) bukan sekadar film alien dengan efek visual, tapi juga refleksi tentang manusia menghadapi yang berbeda. Simak ulasan santai dan opini segarnya di sini.
Rasakan Sensasi Pertama Menonton Film Attraction (2017)
Bayangin lo lagi duduk nonton film sci-fi, tapi yang lo rasain bukan cuma ledakan, pesawat luar angkasa, atau teknologi futuristik. Ada rasa asing tapi akrab, kayak lo lagi diajak mikir tentang hubungan manusia dengan “yang berbeda.” Nah, itulah perasaan pertama yang gue dapet pas nonton Attraction (2017).
Moskow Jadi Panggung Pertemuan Manusia dan Alien
Jangan bayangin Attraction ini kayak film Hollywood standar, karena vibe-nya beda banget. Film ini bawa kita ke Moskow, kota yang biasanya jarang jadi setting utama film sci-fi besar. Alih-alih langsung ngegas dengan aksi, film ini bikin lo merasa jadi saksi “bagaimana sebuah kota menghadapi tamu tak diundang dari luar bumi.”
Yang menarik, sutradaranya—Fedor Bondarchuk—nggak cuma mau pamerin efek visual, tapi lebih ke gimana manusia bereaksi. Ada rasa takut, rasa ingin tahu, sampai kebencian yang muncul. Gue pribadi ngerasa ini kayak cermin kecil tentang dunia nyata: ketika sesuatu yang asing datang, manusia lebih sering defensif ketimbang penasaran.
Yulya dan Hijken: Dua Karakter yang Membawa Jiwa dalam Attraction
Dari semua karakter, yang paling nempel buat gue adalah Yulya (Irina Starshenbaum). Dia itu remaja pemberontak khas film, tapi dengan sisi emosional yang kuat. Cara dia berinteraksi dengan alien nggak lebay, malah terasa manusiawi. Ada satu momen kecil di mana dia berhenti sebentar, memperhatikan sesuatu dengan tatapan campur aduk antara takut dan penasaran. Dari situ gue langsung mikir, “Oke, ini bukan sekadar film alien. Ini soal bagaimana kita bisa membuka hati terhadap sesuatu yang berbeda.”
Aliennya sendiri—Hijken—bukan tipe makhluk luar angkasa yang menakutkan. Dia lebih ke sosok “asing yang mencoba memahami manusia.” Gue suka kontrasnya: Yulya dengan emosinya yang meledak-ledak, sementara Hijken cenderung kalem dan penuh rasa ingin tahu.
Adegan Paling Berkesan di Attraction yang Bikin Merinding
Ada satu adegan yang bikin gue diem sejenak: saat kerumunan manusia menghadapi sesuatu yang mereka nggak ngerti. Kamera menyorot wajah-wajah penuh emosi, dari marah sampai bingung. Rasanya kayak lo ada di tengah demo besar, di mana ketakutan kolektif bisa berubah jadi kekacauan. Bukan adegan action bombastis yang bikin gue teringat, tapi justru tensi emosionalnya yang bikin merinding.
Efek Visual dan Atmosfer Moskow yang Membuat Attraction Unik
Kalau soal visual, Attraction punya pendekatan yang menarik. Efek CGI-nya mungkin nggak segila Marvel atau Star Wars, tapi atmosfer Moskow yang dingin dan realistis bikin semuanya kerasa fresh. Gue suka gimana pesawat alien yang jatuh digambarin bukan sebagai “mainan canggih” doang, tapi kayak benda asing yang bikin lo mikir, “Gimana kalau beneran ada hal kayak gini di dunia nyata?”
Makna Tersembunyi: Takut pada yang Berbeda di Attraction (2017)
Yang gue tangkep dari Attraction adalah pesan soal “takut pada yang berbeda.” Film ini kayak ngajarin kalau manusia sering kali lebih galak sama hal yang asing, ketimbang berusaha kenal dulu. Gue jadi kepikiran, kalau suatu saat beneran ada first contact dengan alien, apakah kita siap buat ngobrol... atau malah siap perang?
Kenapa Attraction (2017) Layak Ditonton dan Untuk Siapa Cocok
Attraction (2017) mungkin bukan film sci-fi paling heboh, tapi justru itu yang bikin dia menarik. Film ini berusaha lebih dekat ke sisi manusiawi ketimbang sekadar tontonan penuh ledakan. Buat lo yang suka sci-fi tapi pengen ngerasain nuansa baru di luar Hollywood, film ini wajib banget dicoba. Cocok buat penonton yang suka cerita dengan lapisan emosional, penggemar film alien dengan setting berbeda, atau siapa pun yang penasaran gimana rasanya kalau Moskow jadi pusat pendaratan makhluk luar angkasa.
